10

KEKUATAN DO’A

” Mas, anakke Chairul Anwar diculik “
” Sopo sing nyulik dab.??”
” Jarene pembantune Mas “
” Lha terus piye saiki.??”
” Ha yo mbuh…iki konco-konco jik bingung kabeh”

Berita dari Catur nDono sahabat saya, sesama penghuni kost-kostan Pak Pardal di Jl. Gading Raya Pisangan Lama, membuat saya stress berat.

Meskipun kami tidak satu angkatan pada saat melakukan pendidikan kedinasan di lingkungan Kementrian Keuangan di Kampus STAN Prodip Jurangmangu, sebuah penugasan secara bersamaan di pelabuhan Tanjung Priok yang membuat persahabatan kami yang selama ini biasa saja menjadi lebih erat.

Chairul adalah staff langsung Kepala Kantor kami di Tanjung Priok , segera bayangan wajah Chairul Anwar yang selalu cool , wajah asli wong Solo, murah senyum  meski sedang menghadapi beban di kantor yang berat.  Terbayang wajah Chairul menjadi wajah yang sedih, teramat sedih pastinya. Chairul pasti kelabakan serta kebingungan , orang tua mana yang tidak kebingungan manakala dua anak balitanya dibawa lari oleh orang yang selama ini diberi amanah untuk menjaganya.

Istri Chairul adalah putri Solo dan bekerja di Ditjen Pajak santun dalam bergaul,  tekun dalam beribadah . Kebetulan kakaknya adalah teman kantor saya ( Arri Wisnu Tri Kumoro ) . Sehingga menjadi wajib hukumnya bagi sepasang suami istri yang bekerja di luar rumah harus mempunyai assiten rumah tangga

Segera saya infokan perihal penculikan anak Chairul tersebut ke teman teman kantor di Semarang yang kenal atau satu angkatan dengan Chairul, saya juga menulis di status Facebook  saya supaya informasi ini segera di ketahui oleh teman teman kantor dan sahabat-sahabat saya , minimal mereka turut mendo’akan, karena dengan usaha yang maksimal tanpa didukung oleh kekuatan do’a bagi saya hal tersebut suatu kemustahilan.

Beni salah seorang teman di kantor saya yang kebetulan mempunyai cukup banyak ” teman-teman dari negeri antah berantah ” segera melakukan koordinasi dengan mereka. Berbekal foto yang kami mengirimkan wajah pembantu rumah tangga yang menculik anak Chairul kepada mereka.

Beni segera menjalin koordinasi dengan mereka secara intensif, dari hasil analisa berdasarkan data yang ada dan informasi yang dikirim oleh teman teman dari Jakarta, terdapat salah satu informasi yang cukup membantu kami, bahwa pembantu rumah tangga tersebut berasal dari daerah Purwodadi.

Dari hasil analisa data dan informasi tersebut kemudian ditentukan beberapa titik yang memungkinkan kedatangan sang penculik anak teman kami tersebut dari Jakarta, jika dia akan membawa anak anak Chairul tersebut ke zona aman dia di Purwodadi. Dari pembicaraan diantara kami kemudian disimpulkan bahwa dua moda transportasi darat yang sangat mungkin dipakai adalah Kereta Api dan Bus, meskipun ada 1001 kemungkinan lainnya.

Segera Beni menjalin komunikasi semakin intensif dengan ” teman-temannya”  , mereka membantu kami secara total karena selama ini kami memang sering berkoordinasi dalam menjalankan tugas-tugas penegakan hukum di bidang kepabeanan cukai yang menyerempet instansi lain. Mereka ada yang segera menempatkan diri di perbatasan kota Semarang dengan Kendal, di titik-titik pemberhentian angkutan umum (terminal bayangan). Dibawah komando Beni mereka selalu memberikan update informasi manakala ada hal-hal yang mencurigakan.

Setengah hari sudah  di tengah terik kota Semarang kami terus bergerak mencari informasi dan menggalang informasi yang masuk ke kami.Setiap informasi sekecil apapun jika terkait dengan hilangnya anak Chairul, kami simpan kami analisa dan kami kembangkan.  Saya selalu menanyakan hal-hal yang penting kepada teman-teman di Jakarta untuk memastikan bahwa upaya-upaya yang kami lakukan dimengerti ,dipantau oleh teman-teman Jakarta.

Beni dan team nya sempat membuntuti seorang wanita saat keluar dari Bus yang datang dari arah Jakarta, namun nihil hasilnya. “Negatif nDan….” jawaban itu beberapa kali saya dengar dari Beni manakala ada target yang mencurigakan dan sempat dibuntuti oleh Beni.

Selepas kami melaksanakan sholat ashar, Beni mendapat informasi dari  ” temannya” yang sejak pagi ditanam  di stasiun Kereta Api Tawang. Bahwa ada seorang wanita membawa dua orang anak  turun dari Kereta Api mirip dengan ciri ciri yang kami berikan. Hanya saja wanita itu berjilbab.

Buntuti terus saja Bang perintah Beni kepada temannya, kami segera merapat ke TKP , tolong Abang jaga betul target jangan sampai lepas. Suara Beni kepada temannya.

Segera kami bergegas menuju ke stasiun kereta api Tawang, setelah memasuki area stasiun belum sempat kami turun dari mobil ada informasi tambahan bahwa perempuan yang dicurigai tersebut sudah keluar dari area stasiun dan membawa bayi nya saja sedangkan anak laki laki yg berusia 3,5 th tersebut ditinggalkan di area stasiun tawang.

Segera oleh “ teman “ Beni, anak laki-laki yang di tinggalkan di area Stasiun Tawang diamankan, digendong lalu saya ambil alih Ammar anak Chairul tersebut. Dengan bantuan tukang ojek yang ada di pelataran stasiun segera dikejar angkot yang dinaiki perempuan tersebut. Kami dengan mobil dinas Kijang Krista membuntuti dari belakang Saya duduk di depan sambil menggendong Ammar, Rudi membawa mobil, Beni di belakang saya bersama Ibu Syamsiah seorang staff Kantor yang kami ajak karena salah seorang anak Chairul yang di culik bayi berusia 6 bulan.

Kurang lebih 1 km dari stasiun Tawang kami berhasil memberhentikan angkot tersebut, kami paksa turun perempuan penculik anak Chairul. Adegan yang tidak lazim di tengah kepadatan lalu lintas tersebut sontak membuat masyarakat di sekitar menjadikan kami pusat perhatian karena Ibu Syamsiah masih memakai seragam Bea Cukai lengkap.  Nayla yang masih bayi berusia 6 bulan berhasil kami rebut lalu  digendong oleh beliau dan saya terus mendekap Ammar dalam gendongan saya.

Dengan “sedikit “ tindakan yang sifatnya pemaksaan kami paksa perempuan tersebut masuk ke mobil dinas kami.

Di dalam mobil dinas segera kami menuju tempat yang kami anggap aman, nyaman dan tidak menjadi pusat perhatian, karena kami kasihan melihat dua bocah balita yang masih polos dan lugu menjadi korban penculikan. Kami tidak dapat membayangkan apabila peristiwa tersebut menimpa kami.

Segera kami menghubungi teman di Jakarta yang sedari pagi hari selalu berkomunikasi dengan kami, dengan tetesan air mata yang tidak dapat saya bendung kami mengabarkan bahwa Muhammad Ammar Faashil dan Nayla sudah kami temukan dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa kekurangan suatu apapun.

Selanjutnya kami segera memesan hotel untuk menunggu kedatangan orang tua mereka, dan tepat ba’da maghrib kami memperoleh informasi bahwa Chairul Anwar dg istrinya akan berangkat dari Jakarta malam ini juga. Dan tepat kurang lebih jam 20.45 WIB Chairul Anwar kembali bertemu dengan sang buah hatinya.

Dengan tentu saja diiringi tangis kebahagiaan, dan yang membuat suasana menjadi cair manakala Ammar digendongan Bapaknya berkata “ Bapak aku tadi naik kereta api, enak banget lho”. Maka pecahlah tawa kebahagiaan diantara kami semua.

Terima Kasih semua teman yang tiada henti hentinya berdo’a dalam membantu pengungkapan penculikan anak teman kita Chairul Anwar dan semoga Allah Yang Maha Kuasa mencatat ini semua sebagai amal ibadah kita. Amien

Semarang, 01 Juni 2010

admin_kangardani

10 Comments

  1. Alhamdulillah.
    Semoga kejadian semacam ini tidak terjadi lagi untuk keluarga manapun.
    Dan selamat untuk kerja tim yang hebat.

  2. Luar biasa mas Ardani, dadi kelingan anak nang omah. Terbawa suasana baca nya.

    • Wis ndhang mulih…..ehhh saiki wis ora nang A Yani kok yaaa…..sabarrrrrrrrrrrrrrr

  3. Ya ampuuunnn… pak … seperti sedang lihat sinetron saya baca tulisan ini… Luar biasa banget Pak Bos Ardani dan Kawan-kawan …

    Eh nasib mba pembantu itu gimana pak

  4. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik atas kemuliaan hati Kang Ardani dan selalu istiqomah dalam kebaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *