4

SINGKONG KEJU

” Bapake, nanti berhenti dulu sebelum masuk pintu TOL ya….biasa beli bekel kesukaan adik ” 

” Siap nDuk, pastinya itu !.”

Sudah seperti sebuah SOP bahwa sebelum kembali ke asrama Pondok Pesantren, anak ku yang bontot selalu minta membeli makanan kesukaan nya singkong keju.

Bagi anda yang belum pernah mencoba inovasi makanan kaki lima ini, boleh dicoba dengan harga yang tidak merobek kantong namun cita rasa tidak kalah dengan makanan di pusat perbelanjaan.

Perkenalan kami dengan singkong keju tidak disengaja, karena terburu-buru harus kembali ke asrama dan belum makan, saya menawarkan membeli saja tahu sumedang dengan lontong, namun si bontot bosan dengan menu tersebut kebetulan tidak jauh dari penjual tahu sumedang ada kedai baru yang menjual singkong keju.

Akhirnya sejak perkenalan itu membuat si bontot selalu membeli dan membawa ke asrama untuk dimakan bersama teman se kamar nya.

Mas Slamet,  penjual singkong keju asli Wonogiri setelah mempunyai kedai bakso dan mie akhirnya membuat diversifikasi usaha dengan menjual singkong keju tersebut. Menurut cerita Mas Slamet, prospek omzet singkong keju ini cukup menjanjikan. Hampir setiap hari dagangan singkong keju nya ludes.

Selain menjual singkong keju , ternyata Mas Slamet tetap mempertahankan singkong goreng asli, dimana tidak ada citarasa apapun kecuali rasa asli singkong goreng yang renyah dan gurih. Apalagi singkong yang dijual Mas Slamet didatangkan langsung dari Jatisrono.

” Saya berusaha memperluas segmen pasar saya, anak-anak sekarang mana mau makan singkong goreng biasa seperti Mas Ardani, kalau anak-anak sekarang favorit mereka adalah singkong goreng ditaburi keju, diberi rasa pedas, atau diberi  rasa lada hitam.”  Mas Slamet menjelaskan taktik dagangnya.

Terus terang lidah saya tidak bisa menerima 100% rasa singkong goreng yang diberi keju, terbalik 180′ dengan anak saya si bontot yang tidak doyan makan singkong keju rasa original.

Di tempat kerja kami saat ini,  banyak sekali pegawai pegawai baru yang masuk ke instansi kami, dari berbagai sumber dan  setelah melalui saringan test yang cukup ketat dalam beberapa tahap.

Mereka adalah insan-insan yang terpilih dari pendaftar yang membludak setiap tahunnya. Soal intelektual tidak perlu diragukan lagi. Sebagian besar dari adik-adik kami adalah lulusan perguruan tinggi elit negeri ini. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang orang tua nya para pejabat tinggi di berbagai instansi.

Akan tetapi akhir-akhir ini ada keluhan dari beberapa pejabat di lingkungan kerja kami terkait sikap dan perilaku adik-adik kami tersebut,  kesimpulan sementara yang terdengar adalah meskipun adik-adik kami sudah diperkenalkan dengan dunia kerja instansi kami yang unik sebelum mereka secara resmi ditempatkan di masing-masing unit kerja, akan tetapi tetap saja beberapa diantara mereka seperti tidak mengacuhkan perkenalan tersebut.

Saat masa OJT ( On Job Training) mereka bisa santun, bisa dengan mudah menerima perintah dari atasan, namun setelah mereka memakai baju seragam seperti kami beberapa personil mulai menunjukan sifat-sifat berontak khas anak muda, bisa jadi mereka lupa bahwa mereka tidak lagi di dunia kampus, bisa jadi mereka lupa bahwa mereka adalah abdi negara yang terikat dengan norma dan aturan-aturan tertentu.

“Ada lho Mas, yang ke kantor pakai seragam dinas tetapi celana nya dimodifikasi menjadi celana pensil”

( Jika belum faham celana pensil berarti anda belum punya anak ABG ).

Saya pribadi melihat ada hambatan komunikasi diantara kami, antara senior dengan yunior di Kantor.

Padahal dalam berkomunikasi kita harus mengetahui beberapa elemen dalam berkomunikasi, elemen-elemen tersebut adalah :

  • komunikator / pemberi pesan
  • pesan yang disampaikan
  • media pembawa pesan
  • komunikan / penerima pesan
  • umpan balik dari pesan

Kita juga harus mengetahui bahwa elemen elemen komunikasi tersebut bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

Seperti kondisi saat ini, anak-anak kita (adik-adik kita) di lingkungan kerja bisa jadi tidak mengenal budaya surat-menyurat dalam berkomunikasi pribadi, seiring dengan kemajuan teknoligi mereka lebih familiar dengan elektronik mail, short message servive (sms) dalam berkomunikasi pribadi.

Bapake, mengapaini disebut Bus Surat..? pertanyaan si bontot saat saya ajak ke Kantor Pos Pasar Baru untuk mengambil paket. Dan dengan susah payah saya menjelaskan kepada si bontot maksud dan arti Bus Surat, entah faham atau tidak si bontot namun saya sudah berusaha dengan mengeluarkan seluruh kemampuan saya.

Ini bukti nyata bahwa budaya komunikasi sudah jauh berbeda, jika tidak berhati-hati maka akan terjadi miskomunikasi antara komunikan dengan komunikator .

Dalam dunia birokrasi antara atasan dengan bawahan seringkali mengalami hambatan komunikasi yang disebabkan oleh faktor-faktor psikologis seperti egois, tidak percaya, tidak saling terbuka, rasa tertekan .

Ada dua faktor yang membuat terjadinya hambatan komunikasi yaitu gangguan sematik dan gangguan mekanik.

Gangguan sematik berkaitan dengan pesan komunikasi yang rusak disebabkan salah satunya penggunaan bahasa,  lebih detail lagi terkait dengan penggunaan istilah  yang disampaikan komunikator yang diartikan lain   oleh komunikan sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

Gangguan mekanik, gangguan yang disebabkan saluran komunikasi yang bersifat fisik, misalnya ada bunyi pesawat terbang yang melintas saat seorang atasan sedang memberi briefing kepada bawahan.

Gangguan komunikasi tersebut bisa diatasi dengan cara :

  1. Menggunakan umpan balik,
  2. Mengenali penerima pesan,
  3. Merencanakan dengan detail sebelum berkomunikasi, dengan siapa, kapan, dimana, mengapa berkomunikasi.

Seringkali kita sebagai atasan lupa atau tidak mengetahui bahwa bawahan kita masih anak-anak, masih sangat muda akan tetapi karena situasi dan kondisi mereka sudah harus di dunia kerja birokrasi. Yang bisa jadi banyak diantara mereka  yang belum siap secara psikologis , ibaratkan saja selepas SMA mereka kuliah satu tahun lalu wisuda dan setahun kemudian mereka masuk dunia kerja. Sedangkan anak-anak kita masih asyik kuliah dengan dunia remaja mereka yang penuh tawa canda di Kampus masing-masing.

Sebagai senior, sebagai atasan yang dibutuhkan oleh adik-adik kita tersebut adalah memberi bimbingan serta arahan dengan bahasa mereka ini yang saya rasakan saat mengalami hambatan komunikasi dengan mereka. Perintah atau himbauan dalam bahasa formal seringkali tidak mereka tangkap dengan baik, akan tetapi perintah dalam bahasa gaul, bahasa kekinian, bahasa mereka anak-anak muda bisa lebih mereka fahami.

Tidak bijak rasanya hanya menyalahkan mereka para yunior, sedangkan kita para senior secara tidak langsung memberi contoh yang tidak baik, seperti dalam hal berpakaian dinas. Berapa banyak diantara kita yang masih setia dengan sepatu dinas dalam bekerja sehari-hari.

Kita semua perlu melakukan Instropeksi diri atau muhasabbah , melakukan evaluasi diri terhadap perbuatan baik dan perbuatan jahat yang kita lakukan dalam semua aspek kehidupan. Baik dalam hubungan vertikal dengan Allah SWT atau horisontal dengan sesama makhluk Allah. Agar niat kita tulus dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha kepada instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, diberi kemudahan oleh Allah.

Kalau bukan sekarang kapan lagi ??, kalau bukan kita siapa lagi.?? Bravo DJBC

DJBC BISA
DJBC JAYA

@Jidan9084

Pinggiran Jakarta, 18 Oktober 2015

admin_kangardani

4 Comments

  1. Mantep Mas, tulisannya. Dari sesuatu yang biasa menjadi tulisan luarbiasa.
    Ijin koment ya Mas, untuk fenomena tersebut tidak hanya dialami oleh institusi pemerintahan, di institusi swasta juga begitu, yang membedakan adalah kultur budaya kerja, di institusi pemerintah pegawai level tertentu baru bisa mempunyai hak mendengarkan, menjalankan perintah dan belum punya hak berpendapat, baru di level tertentu pegawai bisa mendapatkan hak untuk berpendapat, tapi belum tentu pendapatnya dipakai, mungkin lho ya, ada pegawai yang levelnya baru mendengarkan dan menjalankan, sudah berani berpendapat itu yang dirasa kurang berkenan, beda di swasta yg mungkin baru pegawai yg kerja beberapa bulan sudah dilibatkan memberikan masukan2 untuk kemajuan institusi mereka.
    Ya menurut saya sih para adik-adik tersebut harus sadar dimana mereka bekerja dan harus menyesuaikan dengan budaya kerja institusi mereka bekerja.
    Tetapi tidak menutup kemungkinan budaya kerja institusi akan berubah dengan perubahan jaman,
    “Lebih baik berubah karena kemauan daripada dipaksa berubah oleh perubahan”
    Walah malah mbulet..

    #toos

  2. >>>menurut saya sih para adik-adik tersebut harus sadar dimana mereka bekerja dan harus menyesuaikan dengan budaya kerja institusi mereka bekerja.<<< STABILO....!!! Matur nuwun banget dab masukannya....salam KAMTIS.!!!

  3. Sebgai atasan yo yg lebih sabar mas, ada tugas membina, mereka di kuliah kan sekedar teori, gak tahu ada kuliah “kesantunan dlm lingkungan kerja gak” , anggap sja mendidik ank2 /adik2 kita sendiri, ada pesan tersirat “anak buah yg bodoh dibwah arahan pimpinan yg hebat akan menjadi pandai, ank buah yg pintar dibawah arahan pimpinan yg maaf kurang pandai akan menjadi bodoh/tdk berguna”, maaf lo mas Ardani….aku ora iso nulis…salah2 kata mohon dingapunten…itu pendpt pribadi saya sja..

    • matur nuwun mbak Rina….bener banget mbak Rina, mereka adalah “adik adik kita / anak anak kita” karena sdh menjadi keluarga besar DJBC tugas kita yg senior utk mbuat mereka “nyaman” di rumah besar kita ini

      Saya malah mengharap masukan spt ini Mbak Rina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *