0

BUKAN BEA, BUKAN CUKAI (2)

 

“Lho Mas Ardani sudah pindah tugas lagi tho.?”

Injih Pak”

“Pindah ngendhi.? “

Wonten Kantor Pusat Pak, dateng Humas Bea Cukai”.

Wooo, yo syukur yen ngono cocok karo hobbymu tho”

“Nyuwun pengestu Pak”.

 

Entah dari mana Pak Syamsul tahu kalau saya cocok di Humas, bisa jadi karena melihat di sosmed karena Saya sering upload foto. Tidak saya pungkiri jika kesenangan saya memotret terutama foto dokumenter dan landscape banyak membantu dalam penugasan Kantor.

Namun membuat kesimpulan bahwa Humas hanya (maaf) tukang foto saja adalah tidak tepat.

humas

Menkeu Sri Mulyani Indrawati sekembalinya dari World Bank sesaat setelah dilantik menjadi Menkeu mengumpulkan para pimpinan Humas pada masing-masing unit eselon 1 Kemenkeu, dari pimpinan yang diundang tersebut, Saya mendapat cerita bahwa Menkeu berharap Humas pada masing-masing unit eselon 1 harus berubah, Humas bukan sekedar tukang foto, Humas tugasnya bukan menyiapkan payung dan tisu jika ada pejabat yang datang,  Humas tidak hanya disibukkan dengan protokoler menjemput dan mengantar pejabat yang datang.

Humas pada masing-masing unit eselon 1 Kemenkeu adalah show case alias etalase, merupakan beranda rumah kita apabila teras rumah kita tidak menarik maka jangan harap akan ada tamu yang datang, jangan berharap mereka akan mengenal kita lebih jauh.

Humas saat ini harus bisa mendukung program Kemenkeu pada umumnya dan masing-masing unit eselon 1 Kemenkeu pada khususnya, tidak boleh berita yang dikeluarkan kalah cepat dengan media massa mainstream online -terlebih cetak, bukanlah berita-berita tersebut dari kita yang mengeluarkan, apa gunanya jika pegawai masih meng-klik portal berita media online untuk membaca berita-berita yang bersumber dari instansi tercinta kita ini.

Dari data statistik yang ada dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 262 juta jiwa,  132 juta pengguna internet dimana 107 juta diantaranya pemakai sosial media secara aktif serta 91% penduduk dewasa yang memakai gawai (gadget). Jika disimak secara seksama maka sejak bangun tidur hingga akan tidur  kembali maka alat komunikasi yang bernama HP selalu nempel di tangan, bahkan lebih repot tertinggal HP dibanding tertinggal dompet.

Ustadz Cahyadi Takariawan seorang apoteker alumni UGM yang berprofesi konsultan parenting, dalam sebuah acara di Masjid Baitut Taqwa Kantor Pusat DJBC    mengatakan bahwa alat komunikasi (HP) ini seringkali menjadikan komunikasi yang tidak jalan, baik antar bawahan atasan terlebih lagi jauh berbahaya jika hal tersebut terjadi pada keluarga kita, masing-masing anggota keluarga sibuk dengan HP nya saat sampai di rumah. Ayah sibuk dengan pekerjaan kantor yang tertunda sembari membalas percakapan pada WAG, Ibu sibuk bercengkerama dengan group arisan dan pengajiannya, sang Anak asyik berselancar di dunia maya untuk membeli barang via online yang seringkali tidak dibutuhkan. HP sudah menjadi selingkuhan masing-masing anggota keluarga, dan jika ini tidak diatasi akan menjadi bom waktu.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa dari data  yang tersaji HP sudah mendominasi kehidupan seseorang, bahkan aparat penegak hukum saat ini untuk memperkuat alat bukti yang dimiliki seringkali dengan cara menyadap HP seseorang, bahkan aparat penegak hukum bisa meng-cloning semua isi dalam HP, cukup dengan mengetahui paswot email, semua data pada HP bisa disedot tanpa ada kendala, ada resiko yang harus dibayar jika menggunakan kecanggihan teknologi, dan lagi opo tumon ada hal-hal yang bersifat rahasia kok disimpan dalam HP.

Harus diakui kita saat ini hidup di dalam dunia maya, meski kita tidak mengakses sosial media sekalipun. Pengguna facebook tanah air patut bangga karena menduduki peringkat 4 setelah USA, Brazil dan India, sebaliknya penggiat Twitter ada di peringkat lima setelah USA, Barzil, Japan dan UK.

Ada sebuah teori yang bernama filter bubble dalam arus informasi, dimana jika kita hobby mencari informasi tentang teknologi maka mesin komunikasi akan otomatis mengirim hal-hal yang terkait dengan teknologi kepada akun kita tanpa diminta, sebaliknya jika kita senang berselancar di dunia esek-esek maka secara otomatis mesin komunikasi dengan tanpa permintaan dari kita akan mengirimkan berita, artikel, foto, video yang terkait dengan dunia esek-esek.

Tidak percaya..?silahkan dicoba, terutama point ke-dua.

Kita juga harus hati-hati dalam berkomunikasi terutama di sosial media , selain siapapun boleh berbicara dan cenderung tidak terorganisasi pembicaraannya juga tidak terkontrol pembicaraannya, sehingga informasi  yang bersifat positif  (baik) juga informasi yang bersifat negatiff ( buruk)  masing-masing mempunyai kemungkinan untuk menjadi viral sehingga langkah yang tepat dalam berkomunikasi di sosial media adalah seringkali kita menebar berita baik dengan demikian kemungkinan menjadi viral sebuah berita baik akan lebih besar.

Kita harus menjadikan sosial media sebagai sarana kita untuk me-rebranding institusi tercinta kita ini, selain itu juga untuk meng-edukasi masyarakat luas dengan cara kita masing-masing karena sejatinya masing-masing dari kita adalah HUMAS Bea Cukai. Berharap hanya Humas Bea Cukai yang selalu menjawab keluhan pengguna jasa jelas tidak mungkin karena manusia biasa, meminta Humas untuk selalu bisa hadir disetiap acara pers release di semua kantor pasti akan terkendala jumlah SDM Humas, kami berharap masing-masing unit Layanan Informasi di setiap Kantor aktif memberitakan semua kegiatan Kantor, dengan demikian data base berita di pusat akan banyak berita dari seluruh penjuru nusantara dan ini akan menjadi amunisi tersendiri yang siap untuk dipakai kapan saja sesuai dengan tema yang sedang in di masyarakat.

Meski Bukan Bea, Bukan Cukai jangan pernah berkecil hati karena setiap yang kita kerjakan demi intitusi tercinta kita akan dicatat oleh sejarah, teruslah belajar pada alam raya agar semesta mengaminkan segala keinginan kita, terus belajar kepada siapa saja menjunjung tinggi sikap profesinal dan serta istiqomah dalam integritas untuk #beacukaimakinbaik.

Wassalam

#Jidan9084.

admin_kangardani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *