0

ABIDIN bin KOSASIH

“Pak Kaji cilik….Pak Kaji cilik….” panggilan itu selalu terdengar dari mBak Warini tetangga kampung saat melintas depan rumahnya menuju ke rumah mBah Mukram tempat sekolah ngaji (TPA kalau sekarang), bersama adik saya satu-satunya  saat diminta ikut sekolah ngaji oleh Bapak  maka maka yang ada adalah males, kesel dan ogah-ogahan. Terlebih jika ada ajakan bal-balan dengan teman-teman kampung, maka godaan untuk mbolos ngaji sangat kuat.

Biasanya Sibu yang akan menegur saya untuk tetap ngaji dulu baru nanti bal-balan, Sibu pula yang membesarkan hati manakala Saya melaporkan kalau setiap berangkat ngaji selalu dipanggil Pak Kaji cilik oleh mBak Warini seorang penjahit papan atas di daerah kami. Tempat dimana para ibu-ibu pejabat Kabupaten berlangganan menjahitkan baju-baju mereka.

Ojo nangis Le…diaminke wae sopo ngerti sok mben kowe munggah kaji tenan, begitu Sibu membesarkan hati Saya. Hampir setiap melewati depan rumah mbak Warini saya lari sekencang-kencangnya agar tidak diteriaki Pak Kaji cilik , saat itu belum seperti sekarang dimana sekolah ngaji masih sangat sedikit. Bahkan bagi orang Jawa sangat permisif terhadap hal-hal yang dilarang Agama, mereka biasa bahkan bangga makan saren (darah ayam atau sapi) yang dimasak, tidak ditegur oleh orang tua atau masyarakat saat minum wedang galak (minuman keras). Sehingga teori tentang Masyarakat Jawa dengan sebutan  Islam abangan menjadi benar adanya.

Masyarakat Jawa menurut Clifford Gerts dikategorikan ke dalam tiga golongan, yaitu Santri, Abangan, dan Priyayi. Kelompok Santri sebutan  orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam. Kelompok abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim yang mempratikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks dan cenderung mengikuti kepercayaan adat yang didalamnya mengandung unsur tradisi Hindu, Budha, dan Animisme. Sedangkan kelompok priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi atau sering disebut kaum bangsawan. 

Meskipun sudah selalu dibesarkan hati oleh Sibu tetap saja saya malu bahkan tidak percaya diri jika melewati rumah mBak Warini, karena panggilan yang (terkesan) meledek tersebut juga diucapkan manakala saya pulang sekolah atau pas berangkat sekolah.

Dan Sibu selalu hanya menjawab diaminke wae Le…untuk membesarkan hati saya, selalu hanya itu saja diaminke wae Le.

Dik Ardani, kata Pak Sekretaris adik saja yang berangkat sebagai petugas Haji tahun ini. 

Kalimat yang terucap dari Pak Suharko Kepala Bagian Administrasi Kepegawaian saat itu seperti sebuah mimpi, sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan, terlebih seorang pegawai golongan II saat itu, posisi saya hanyalah staff pada Bagian Administrasi Kepegawaian kok tiba-tiba ditunjuk jadi petugas Haji mewakili Instansi tercinta ini.

Pak Suharko saat bertemu acara buka puasa bersama 1438H kemarin , masih tetap sehat di usia yang sudah cukup tua

Pak Suharko saat bertemu acara buka puasa bersama 1438H kemarin , masih tetap sehat di usia yang sudah cukup tua

Saat saya menyampaikan kabar sangat gembira ini, Sibu bertanya Lha kok iso wong Bea Cukai dadi petugas Haji nang Arab..? Panjang lebar saya jelaskan tentang CIQ (Customs Imigration dan Quarantine) , sebagai pribadi buta huruf Sibu tambah bingung dengan penjelasan yang Saya sampaikan.

Dadi petugas Kaji kowe mengko yo iso dadi Kaji Le..? 

Insya Allah saged Bu

Alkamdulillah yen ngono

Khodimatul Hujjaj yang artinya pelayan para jemaah Haji, itu pesan dari Pak Haji Hasjim Asnawi atasan langsung saya yang saat itu sudah pensiun. Dengan gaya khas priyayi Solo asli Pak Hasjim berpesan kepada Saya bahwa sebagai panitia ibadah Haji maka jangan mengejar sunah-sunah yang malah meninggalkan kewajiban sebagai khodimatul hujjaj, pesan tersebut saya pegang erat. Karena Pak Haji Hasjim sudah melaksanakan ibadah Haji tahun 1970an.

seragam panitia haji

seragam panitia haji

PPIH Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di tanah suci, itu tugas yang diberikan kepada Saya cah nDeso yang mendapat rejeki nomplok, dan saya yakin ini semua karena do’a dari kedua orang tua Saya. Ditempatkan di daker (daerah kerja) Jeddah tepatnya di bandara King Abdul Azis , durasi waktu tugas selama 3 bulan . Sebelum jamaah haji datang kami sudah harus di tanah suci, saat pelaksanaan ibadah Haji kami semua petugas bergerak ke Arofah untuk tetap bekerja sebagai panitia disamping kami tetap bisa menjalankan rukun dan wajib Haji.

Tugas sehari-hari kami adalah menyambut kedatangan calon jemaah Haji dari seluruh Nusantara dengan berbagai latar belakang kami jumpai. Ada kloter kelompok terbang sebuah daerah yang selalu datang dari tanah air dalam kopornya penuh rokok berbagai merk, ada juga yang satu kopor penuh jamu tradisonal, jangan ditanya juga para jamaah yang membawa bahan pokok makanan karena mereka masih memasak untuk makan sehari-hari.

Berdasarkan pengalaman menjadi panitia PPIH tanah suci menjadi sedikit tahu bahwa , banyak KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) dengan embel-embel “plus” ternyata hanya plus sengsara karena tidak sedikit yang di bandara haji King Abdul Azis terlantar sehingga akhirnya harus dievakuasi oleh PPIH dari Departemen Agama untuk menuju Mekkah agar mereka bisa melaksanakan ibadah Haji.

Jadi saat kemarin ramai-ramai (beberapa) teman Umroh dengan mempergunakan firts travel sempat terpikir ikut mendaftar namun melihat pengalaman langsung menyaksikan beberapa oknum yang menipu calon jemaah haji kala itu akhirnya batal mendaftar umroh via firts travel.

Haji memang penuh misteri, ada seorang tukang bubur bisa naik haji, ada tukang becak yang setiap jumat bersedekah dengan tenaganya dengan tidak mau dibayar setiap penumpang bisa bernagkat haji.

Ada juga pegawai Bea Cukai Departemen Keuangan yang menjadi petugas haji di tanah suci, selain bisa melaksanakan Haji juga mendapat uang saku, sehingga dikenal dengan sebutan Haji Abidin Kosasih (Atas Biaya Dinas Ongkos Dikasih). Dan saya yakin ini karena do’a kedua orang tua.

ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA 

  “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

saat wukuf di arofah

saat wukuf di arofah

 

para panitia siap melaksanakan wukuf sembari bertugas sebagai panitia

para panitia siap melaksanakan wukuf sembari bertugas sebagai panitia

 

bersama Pak Azmi seorang BRIMOB asal Sumut yg bertugas sbg PPIH juga

bersama Pak Azmi seorang BRIMOB asal Sumut yg bertugas sbg PPIH juga

 

Menerima pengarahan dari ketua panitia bersama para TEMUS Tenaga Musiman yg sebagian besar para mahasiswa sekitar Saudi atau para mukimin yaitu warga Indonesia yg tinggal di saudi

Menerima pengarahan dari ketua panitia bersama para TEMUS Tenaga Musiman yg sebagian besar para mahasiswa sekitar Saudi atau para mukimin yaitu warga Indonesia yg tinggal di saudi

 

seragam kebanggan selama bertugas sebagai PPIH

seragam kebanggan selama bertugas sebagai PPIH

 

Haji Abidin Kosasih

Haji Abidin Kosasih

 

Pinggiran Jakarta, 9 Dzulhijah 2017

admin_kangardani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *