8

CEMBURU

Salah satu pundit Sepakbola nasional yang saya kagumi adalah M Yusuf Kurniawan, karena wawasan tentang bola sepak sangat luar biasa. Ditambah  gaya bahasa jurnalistik dalam penyampaian yang sangat cocok di telinga. Kepiawaian Yusuf mengocek bola di lapangan hijau diatas rata-rata untuk seorang jurnalis, tendangan canon ball ala Ronald Koeman. Daya jelajah di atas lapangan hijau mirip Roy Keane.

Kami pernah bertemu diatas lapangan hijau saat Kesebelasan wartawan olah raga DKI pernah menjadi mitra tanding kami, di lapangan sepakbola Bojana Tirtta Rawamangun.

Jika pundit sepakbola berangkat dari profesi mantan atlet, maka Yusuf adalah murni seorang jurnalis olahraga. Wajar jika Yusuf Kurniawan  diganjar menjadi Direktur Kompetisi dan Pembinaan Usia Dini PSSI, salah satu penyebabnya akrena Yusuf terkenal sebagai pundit yang netral dan professional. Kemampuan analisa dan data yang komprehensif saat menjadi pundit  di depan layar kaca banyak ditunggu oleh penggemar bola sepak nasional.

Sosial media kemarin ramai membahas sosok wartawan pada sebuah tabloid olah raga yang bernama Zulfikar Akbar yang dengan akun twitter @zolefick  “berkarir di media olah raga, bekerja untuk kemanusiaan/a good world needs knowledge kindliness and courage-Bertrand Russel”. Sebagai seorang jurnalis yang dituntut professional dan tidak memihak ternyata @zoelfick membuat blunder dengan menulis dalam akunnya dengan tulisan sebagai berikut : “ Jadi @ustadabdushomad jika ditanya knp negara spt Hong Kong menolak Anda krn memang terbukti dakwah Anda selama ini telah melahirkan umat yang beringas”.

Tidak sampai disitu tulisan yang bernada mengejek Ustad Abdul Shomad, beberapa orang yang mencoba mengingatkan bahkan dibalas dengan tulisan yang menurut saya sangat tidak pantas dibuat seorang jurnalis tingkat nasional. Salah satu jawaban @zoelfick “Pengikut Somad terlalu cepat kumat Saya sarankan Anda agar bs beragama dg waras.Dlm Islam apa saja ibadahnya mensyaratkan waras, jadi ini yg mesti Anda pastikan dulu  jika ingin berislam yg benar. Soal ancaman Anda: Sy tegaskan senjata api saja pernah sy hadapi”.

 

Netizen berbondong-bondong gerakan membuat #BoikotTopskor, jika ada yang berkomentar sedikit-sedikit boikit, boikot kok sedikit-sedikit. Maka saya sarankan agar membaca buku kecil karya Buya Hamka yang berjudul Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, kecil bukunya namun memiliki isi yang sangat berbobot.

Buku ini membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka menceritakan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Persoalan membela kehormatan keluarga bagi sebagian suku di tanah air adalah hal yang biasa, bagaimana suku Bugis atau Madura dengan mudah menebas leher seseorang apabila menyangkut tentang kehormatan . Orang Melayu juga tidak kalah gagah berani saat kehormatan keluarga sudah dihina mereka akan berjuang hingga darah penghabisan, biasanya mereka akan menyerahkan diri kepada aparat penegak hokum apabila telah selesai urusan mereka membela kehormatan.

 

Di zaman Rasulullah pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa yang mungkin dianggap sepele. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya kepada seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’.Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuan wanita tersebut, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Menghina seorang Muslimah sama saja dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan. Apalagi ini sampai ada seorang muslim berani menghina ulama secara terbuka.

Ghirah adalah konsekuensi logis sebuah  iman. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Sehingga jika kita membaca sejarah, maka penjajah telah mengerti tabiat umat Islam yang seperti ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

 

Ghirah, oleh Buya Hamka diterjemahkan sebagai “kecemburuan”.  Dan Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

Setelah sempat menjadi tranding topic #BoikotTopskor, pihak manajemen tabloid olahraga tersebut membuat sebuah keputusan yang menonaktifkan wartawan mereka dengan inisial @zoelfick tersebut. Dalam akun pribadinya Yusuf Kurniawan menulis “ Setiap perbuatan ada pertanggungjawabnnya. @zoelfick sudah umumkan sendiri vonis redaksi thdp akun pribadinya.Sjk saat ini kami TopSkor tidak ada kaitannya lagi dgn @zoelfick. Wassalam”.

Jadi mulai hari ini setelah libur panjang,  ada WTS baru ( wartawan tanpa surat kabar) akibat memperturutkan nafsunya.

Pelajaran buat kita semua agar tidak mempeturutkan hawa nafsu karena sudah jelas tertulis dalam kitab suci kita ’Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (QS. Al-An’am 119).

Wassalam

27/12/2017

Planet mBekasi.

 

admin_kangardani

8 Comments

  1. Tak kira tulisannya beneran tentang cemburu kepada jurnalis sepak bola…. ternyata tentang ghirah yg lebih mulia.
    Senang dengan tulisan njenengan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *