0

RUANG RUANG PILIHAN

Salah satu tabiat manusia adalah sukar menerima nasehat, terlebih jika pribadi tersebut mempunyai sumber literasi yang banyak dari berbagai jenis dan disiplin ilmu. Pribadi seperti ini akan berpikir berulang kali untuk bisa menerima sebuah nasehat, bahkan meski nasehat tersebut berkaitan dengan kehidupan kelak. Tak ada salahnya membuat pertimbangan masak-masak untuk bisa mengiyakan sebuah nasehat, namun yang harus diingat adalah bahwa kemampuan diri kita terbatas.

Harus diingat pula jangan sampai kita terjerumus pada golongan  yang menuhankan akal , bahwa agama harus masuk akal itu benar namun semua syariat  harus sesuai dengan akal kita adalah pemikiran yang keblinger.

Agama bagi saya adalah dogma yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunah Rosul, untuk bisa memahami dan menyelami kedalaman Al Qur’an sangat diperlukan kejernihan hati serta bimbingan dari mereka yang mumpuni dalam bidang ini, pun untuk bisa merasakan kedahsyatan Sunah Rosul maka harus memiliki bekal keimanan yang memadai.

“Aku menyesal sekali, dahulu saat ABG sering berbohong pada orang tua terutama Bapak, saat adzan subuh dibangunin diajak sholat berjamaah selalu susah, bahkan sering sudah bangun masuk kamar mandi pura-pura wudu lalu pakai sarung tapi tidur lagi” Prasetyo sahabat Kantor menceritakan salah satu frase hidupnya.

Pras, yang dahulu dikenal hedonis sekarang sangat jauh dari sifat tersebut, menjadi pribadi yang tawadu’, puasa Senin Kamis tidak pernah terlewatkan, sholat berjamaah dijaga betul, bahkan saat ini memanjangkan jenggotnya. Tinggal isbal saja yang belum dilaksanakan.

“Sejak Gue mulai mempraktekan ajaran Islam sedikit demi sedikit hidup Gue lebih tenang, saat mengikuti sunah Rosul-seperti memanjangkan jenggot ini-anak anakku protes katanya tampang Ayah jadi seram, sebaliknya bini gue demen banget ama ini jenggot” ucap Pras saat berjalan ke Masjid kantor Jum’at kemarin, dengan logat kental betawi.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan, terlebih jika perubahan tersebut ke arah positif. Manusia itu dinamis, suatu saat pemalas, di lain waktu menjadi seorang yang rajin. Dalam sebuah hadits disabdakan bahwa al-iimanu yazid wa laa yankus. Iman itu kadang bertambah, kadang berkurang, kadang naik, kadang turun.

 ”Iman itu kadang naik kadang turun maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Perubahan keyakinan atau perubahan jiwa agama (tingkat spiritual) pada orang dewasa bukan suatu hal yang terjadi secara kebetulan, akan tetapi suatu kejadian yang didahului oleh suatu proses dan kondisi yang dapat diteliti dan dipelajari.

Perkembangan jiwa agama pada orang dewasa, yang terpenting  dinamakan “konversi agama”, keyakinan yang berupa mistik, dan perubahan kearah acuh tak acuh terhadap ajaran agama. Menjadi ke arah sebaliknya. Walter Houston Clark dalam bukunya “ The Psychology of Religion “ memberikan definisi konversi agama sebagai berikut :

suatu pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat Hidayah Allah secara mendadak telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.”

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat ia berada. Selain itu, konversi agama yang dimaksudkan antara lain :

  1. Perubahan arah pandanagan dan keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya.
  2. Perubahan dipengarhi kondisi kejiwaan baik secara berproses atau secara mendadak.
  3. Selain perpindahan kepercayaan atau agama juga perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya. Boleh jadi dari lemah menjadi kuat atau sebaliknya.
  4. Selain factor kejiwaan dan kondisi lingkungan, perubahan disebabkan factor petunjuk Tuhan (hidayah).

Prasetyo saat ini  telah menjadi salah satu batu bata penting perubahan Organisasi kami. Prasetyo telah membuktikan kepada kami,  bahwa kita bisa berubah. Kami harus hijrah . Dan untuk berubah kami tidak bisa sendirian, sepertinyahalnya Rosulullah saat mutasi dari Mekkah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW membawa serta para sahabat-sahabat yang ingin berubah.

Organisasi tempat kita berkarir saat ini, bisa menjadi pintu-pintu amal soleh bagi kita. Organisasi memberi kebebasan kepada kita semua untuk terus berinovasi, terus bergerak untuk berprestasi. Perubahan yang dilakukan untuk menjadikan  Organisasi semakin modern, semakin dipercaya oleh semua pihak. Pasti akan mendapat dukungan.  Mestakung, semesta mendukung.

Wit gedang woh pakel ngomong gampang nglakoni angel ( berbicara itu mudah, berbuat itu susah).  Jargon perubahan yang terus digulirkan oleh unit Ortala membuat banyak sekali perubahan di unit kerja kami. Tidak mudah memang menyatukan visi besar organisasi. Upaya indoktrinasi  kepada semua pegawai hanyalah salah satu cara agar pesan perubahan yang dicanangkan oleh pimpinan bisa diterima dan dilaksanakan hingga kepada pegawai tingkat terendah.

Perubahan tipologi kantor adalah salah satu upaya untuk mengantisipasi beban kerja yang semakin meningkat. Jenis pelayanan dan pengawasan juga dikembangkan menjadi kantor tersendiri, dan masih banyak sekali terobosan yang dilakukan oleh para bidan organisasi tempat kami mengabdi.

Bidang OTL (Organisasi Tata Laksana) adalah para pemikir strategi organisasi, di tangan mereka segala keputusan tentang perubahan dimulai. Bisa diibaratkan OTL adalah gelandang dalam permainan sepakbola. Posisi gelandang berdiri diantara penyerang dan bek. Mereka adalah jantung permainan sebuah kesebelasan. Jika diibaratkan lebih spesifik lagi maka OTL adalah gelandang yang bertipe  deep lying maker  yaitu gelandang yang beroperasi lebih ke dalam, di depan lini pertahanan, dan mengandalkan umpan-umpan panjang akurat. Posisi ini tak hanya mengatur permainan dari daerah pertahanan sendiri, namun sesekali membuat peluang untuk kemenangan tim.

Perubahan yang terus digulirkan oleh Ortala, bukan tanpa resiko. Perubahan akan membawa akibatnya yaitu :

  1. Mereka yang dirugikan
  2. Mereka yang tidak banyak terpengaruh
  3. Mereka yang bakal diuntungkan

Mereka yang merasa akan menjadi korban atau harus lebih banyak berkorbanan jelas akan sangat merasa diperlakukan tidak adil, dan tentu saja menghambat perubahan. ( Rhenald Kasali- Change). 

Ruang ruang pilihan harus diperbanyak agar bisa menghindari keputusan yang kurang adil dalam sebuah proses perubahan . Karena jika ruang pilihan ditutup maka perubahan yang digulirkan tidak akan dirasa hingga ke akar rumput. Para pimpinan harus bisa menjadikan perubahan layaknya sebuah pesta. Semua senang semua gembira. Sepertihalnya  pesta akhir tahun. Target dan beban yang diberikan kepada organisasi bisa dilampaui dengan smooth . Dan ini bukan semata karena satu unit dalam organisasi. Namun ini berkat kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas seluruh anggota organisasi.

Ruang-ruang pilihan menjadikan ruang rindu buat semua anggota organisasi untuk terus berprestasi dalam balutan integritas, sesuai dengan kompetensi mereka masing-masing.

Dan kita yakin akan bisa kita lewati secara bersama-sama sebesar dan seberat apapun target-target yang dibebankan, karena semua terukur, karena kita semua sudah sadar bahwa perubahan itu nyata menuju #beacukaimakinbaik.

Wassalam

29/12/2017

 

admin_kangardani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *